Selasa, 01 Juli 2014

Ilmu Budaya Dasar

Konflik Antar Suku/Bangsa

KONFLIK ANTAR SUKU DI INDONESIA
Peperangan antar suku akhir-akhir ini menjadi bahan pekerjaan pemerintah untuk menetralisir kekisruhan yang sering terjadi khususnya peperangan antar suku. Konflik tersebut terjadi karena saking beragam nya suku-suku di Indonesia dan berawal dari banyaknya suku-suku yang ada tersebut konflik-konflik pembeda atau masalah budaya yang berbeda dan variatif mulai bermunculan.
 
Konflik sering terjadi di kalangan masyarakat karena manusia makhluk sosial dan memiliki beragam pemikiran dan cara masing-masing untuk bersosialisasi. Konflik tersebut biasanya hal sepele tapi berhubung menyangkut RAS atau budaya maka rasa simpati antar sesame budaya yang membuat peperangan tersebut menjadi bukan hal yang sepele lagi. Kita ambil contoh “Peperangan antar suku Madura dan suku dayak”.
Berawal dari masalah sepele yang mungkin bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan bisa tuntas dengan cepat tapi malah sebaliknya persoalan demi persoalan terus dijadikan kambing hitam untuk memancing adanya peperangan antar suku tersebut. Mungkin budaya tersebut menjadi pemacu terjadinya peperangan tersebut.
 
Pertentangan antara warga asli Lampung dengan warga Bali di Lampung merupakan salah satu contoh konflik yang baru saja terjadi. Konflik ini terjadi karena kesalahpahaman antara dua kubu tersebut. Akibat dari konflik itu, banyak korban yang berjatuhan, rumah-rumah yang hancur, serta perpecahan dalam masyarakat. Faktor lain terjadinya konflik adalah primordialisme, yaitu menganggap kelompoknya lebih tinggi dari kelompok lain. Primordialisme ini sangat berpengaruh apabila terjadi di Indonesia, karena mengingat Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku. Selanjutnya adalah adanya kesenjangan ekonomi, missal kasus Sampit. Masyarakat asli tidak menerima adanya perbedaan ekonomi dengan masyarakat pendatang sehingga memunculkan konflik yang tidak berujung.
Selain dua faktor di atas, adanya kesalahpahaman juga mempengaruhi terjadinya konflik, adanya perbedaan keyakinan (agama) juga bisa menyebabkan konflik antar masyarakat, serta adanya masalah politik seperti pada kerusuhan Mei tahun 1998.
 
Konflik sering terjadi di Indonesia,  seperti  konflik antar etnis Lampung vs Bali, masyarakat vs anggota TNI/Polri, konflik karena agama di Poso, dan yang terbaru ialah konflik antar masyarakat dengan Polri di daerah Sumatra Utara. Pelanggaran HAM sudah pasti banyak saat terjadi konflik. Seperti pelanggaran hak hidup dan hak berpendapat.
 
Tidak jarang para pelanggar HAM adalah mereka yang seharusnya ikut menjaga keutuhan hidup bermasyarakat, yaitu para anggota TNI/Polri yang dengan gampang bisa menembakkan peluru mereka ke arah orang-orang yang berkonflik dengan sembarangan. Kasus hukum bagi pelanggar HAM saat konflik masih terbelit-belit,bahkan ada yang belum diketahui identitas pelakunya sampai saat ini seperti pada kasus kerusuhan Mei ’98 tentang penembakan mahasiswa oleh anggota Polri.
Dalam hal ini pemerintah tentu bertanggungjawab atas terjadinya konflik, apalagi jika sudah yang menyangkut pelanggaran HAM. Karena setiap manusia memilik hak masing-masing dan apabila ada yang menghalangi untuk mecapai hak tersebut maka pemerintah harus bertindak. Namun seluruh masyarakat juga memiliki tanggungjawab yang sama agar konflik tidak terjadi lagi di Indonesia, karena dengan begitu makan pelanggaran HAM juga akan semakin sedikit.

Hal tersebut sebenarnya sudah diatur oleh undang-undang sebagai berikut :

  1. Pasal 27 ayat 1 berisikan “Setiap warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” 
  2. Pasal 28D ayat 1 berisikan “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”

Cara mencegah terjadinya konflik, antara lain dengan saling menghormati antar masyarakat, apabila hal ini terwujud maka setiap orang akan memiliki perasaan yang sama, bahagia karena dihormati sehingga memunculkan rasa menghormati oranglain. Selanjutnya dengan menjaga kerukunan masyarakat, walaupun mungkin hal ini sulit mengingat masyarakat Indonesia terdiri dari ratusan suku yang memiliki ciri watak berbeda-beda namun akan menjadi mudah apabila sudah terbentuk suatu sikap untuk saling menjaga dan mempertahankan kerukunan baik antar umat beragama, antar etnis, serta antar suku bangsa yang kuat dari dalam diri masyarakat.
 
Serta dengan berpikir sebelum bertindak, ini penting karena pasti ada akibat dari sebab. Setiap apa yang kita lakukan pasti menimbulkan suatu akibat, apalagi akibat dari konflik yang negatif, yaitu korban berjatuhan, hilangnya harta, maka harus selalu memikirkan matang-matang setiap rencana. saya pikir, warga Negara yang baik adalah warga Negara yang melandaskan hidupnya akan aturan yang dijalankan dengan baik dan menaruh yang sangat BURUK bagi para penerus nantinya ditengah maraknya budaya asing yang sedang menjadi pembahasan kaum muda, harusnya Indonesia lebih mengkokohkan pondasi budaya yang diwariskan, agar supaya para generasi mendatang akan lebih kuat menahan arus tersebut.ghargainya.olehkarena itu masalah perang kebudayaan, dan masalah masalah lain, ini menjadi contoh bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat dan tingkat sosial masyarakat yang sekarang terjadi smakin BURUK dan hal tersebut menjadikan DISINTEGRASI.
 

Nama   : Isma  Maulani
NPM    : 1A112063 (Transfer)
Kelas    : 1KA02

Tidak ada komentar:

Posting Komentar