Rabu, 02 Januari 2013

Bahasa Indonesia 1 - Resensi Novel



Resensi Novel “Supernova ; Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”

Judul               : Supernova; Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis             : Dewi “Dee” Lestari Mangunsong
Penerbit           : Truedee Books
Terbit Tahun    : 2001 pada Cetakan V
Tebal Buku      : 231 halaman
Panjang buku  : 21 cm
Lebar buku      : 13,5 cm
Resensi
Novel ini dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan edisi Inggris untuk menembus pasar internasional bekerja sama dengan Harry Aveling sebagai penerjemah ke bahasa Inggris.Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books.
Buku  dengan tebal 231 halaman ini memang sangat menarik untuk dibaca oleh orang yang menggemari sains, karena buku ini memang didominasi oleh bahasa sains yang mudah dimengerti bagi penyuka sains. Tetapi buku ini juga menarik bagi orang yang awam terhadap sains yang ingin menikmati karya sastra yang dinominasikan sebagai Indonesia’s Best Fiction Award 2000-2001 (Novel Fiksi Indonesia Terbaik 2000-2001) ini. Orang yang awam terhadap sains juga bisa menikmati novel ini karena di setiap halaman yang dihiasi istilah sains yang sulit, selalu dilengkapi oleh footnote (catatan kaki).
Penokohan yang dituliskan Dewi “Dee” Lestari pun kuat untuk sebuah novel fiksi. Sifat dari karakter-nya pun dapat terasa dengan jelas. Alur ceritanya pun tidak berbelit-belit dan tidak berbasa-basi sehingga pembaca pun disuguhi cerita yang jelas tujuan dan maksudnya.
Dikisahkan oleh Dee (Pangglan akrab Dewi Lestari) ada dua pria yang mengalami penyimpangan perilaku seksual, mereka gay (homo) yang sudah menjalani kehidupan menyimpang mereka selama 10 tahun, Dhimas dan Ruben namanya. Diceritakan dalam novel tersebut, Ruben termasuk kedalam geng anak yang selalu mendapat beasiswa, orang yang sinis, kuper yang hanya cocok bersosialisasi dengan buku. Sementara Dhimas termasuk geng anak orang kaya, kalangan mahasiswa Indonesia berlebih harta.
Mereka berdua membuat sebuah janji “Sepuluh tahun dari sekarang, aku harus membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percobaan sains,” kata Ruben. Lalu Dhimas setuju, “ Fine. Sepuluh tahun buatmu, sepuluh tahun juga buatku. Satu masterpiece. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang. Akhirnya setelah sepuluh tahun berlalu, mereka mulai untuk membuat sebuah  karya yang bisa dibaca banyak orang. Sebuah roman sains, romantis, puitis. Mereka membuat kisah cinta yang tidak biasa, kontroversial, ada pertentangan nilai moral dan sosial.
Ruben dan Dhimas menulis Cerita Supernova (Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh) mengisahkan 3 tokoh. Mereka bernama Ferre, Rana, Diva. Ferre adalah seorang pria yang dapat dikatakan sempurna, tampan, mapan, produktif, menarik, dan berjabatan tinggi, dia begitu menarik sehingga diidolakan oleh kaum hawa. Seorang wartawati dari sebuah tabloid wanita yang telah bersuamikan Arwin mencoba mewawancarai Ferre. Rana nama wanita itu, entah karena pribadi keduanya yang mempunyai kecocokan keduanya pun saling tertarik dan menjalani hubungan terlarang antar seorang pria lajang dan seorang wanita bersuami atau biasa disebut selingkuh. Arwin, suami Rana, sama sekali tidak menaruh curiga pada sang istri, ia terlalu cinta pada Rana. Wanita bersuami yang mengalami ketidakpuasan dalam berrumah tangga ini pun mencoba mencari kepuasan lain dari Ferre dan diceritakan hubungan mereka begitu mesra.
Suatu waktu Rana dihadapkan pada kenyataan bahwa Ia harus memilih antara Ferre, pria yang menjanjikan kepuasan namun tidak memberikan rasa aman saat bersamanya atau Arwin, pria mapan yang membosankan namun dapat memberikan rasa aman saat bersama Rana. Saat Rana merasa yakin dengan Ferre, ternyata Arwin datang dengan sebongkah harapan bahwa ia akan membahagiakan Rana kelak. Rana pun goyah dan memutuskan hubungannya dengan Ferre .
Ferre yang memang mencintai Rana sangat sedih dan kecewa karena harapan yang sudah Ia bangun malah tidak sesuai pada kenyataannya, sempat ia berfikir untuk bunuh diri. Namun ada seorang wanita bernama Diva yg menyelamatkan Ferre dari keputusasaannya tentang hidup.
Diva dikatakan sebagai seorang wanita berwawasan sangat luas, cantik, kaya, mapan dan berpikiran maju. Ia memang seorang pelacur kelas kakap yang hanya menerima bayaran besar dalam bentuk dolar, dan tanpa seorang mucikari oleh karena itu ia ingin dikenal sebagai seorang wiraswasta (enterpreuneur) sejati. Pelanggannya pun hanya orang-orang berkantong tebal.
Diva ternyata adalah tetangga seberang rumah Ferre, setiap malam sebelum mereka tidur dari jendela masing-masing mereka mengucapkan selamat tidur dan sepercik kekaguman terhadap pribadi masing-masing.
Ferre pun berteman dekat dengan Diva dan berangsur-angsur pulih dari pengalaman pahitnya. Tokoh lain yang juga mewarnai cerita ini adalah Supernova, seorang cyber avatar (semacam penyelamat/pertapa yang hidup di dunia maya) yang berpikiran luas terhadap dunia dan menjadi tempat curhat (curahan hati) tokoh lain di novel ini. Selain Supernova pun ada seorang pria yang menjadi pangagum juga yang dikagumi oleh Diva, Gio seorang pecinta alam yang sudah menjelajahi hampir seluruh permukaan bumi.
Cerita ini memang dapat dipandang sebagai cerita yang unik. Karena ada sisi-sisi yang masyarakat kita anggap masih tabu untuk dibicarakan malah diungkapkan dan diceritakan dengan cara yang unik pula oleh Dee. Mungkin karena itu pula Dee memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh penulis lain dimata para pakar karya satra. Karena para pakar memandang Supernova sebagai karya sastra yang layak untuk diperbincangkan dan tentunya dinikmati karena mengandung unsur sastra yang menarik untuk dibicarakan.

Kata-kata yang menarik didalam novel Supernova:
“Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.”
 “Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yg paling hina?”
“Kau hadir dalam ketiadaan, Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti, Namun aku selalu disini, Menantimu.
Entah mengapa.


   Nama : Isma Maulani
NPM : 1A112063
Kelas : 5KA27


Tidak ada komentar:

Posting Komentar