Rabu, 02 Januari 2013

T1 Ilmu Sosial Dasar - Fenomena Tawuran Pelajar




TUGAS ILMU SOSIAL DASAR
“FENOMENA TAWURAN DIKALANGAN PELAJAR”






Disusun Oleh :
   Nama  : Isma Maulani
   NPM   : 1A112063
   Kelas   : 1KA02



Jurusan Sistem Informasi
Universitas Gunadarma
Depok 2012



PENDAHULUAN

            Tawuran sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Sehingga jika mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya tawuran antar pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara, antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan. Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku anarki selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat.Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan geng kelompoknya.

 Seorang pelajar seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Biasanya permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Pemicu lain biasanya dendam Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut.Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar permasalahannya adalah tingkat kestressan siswa yang tinggi dan pemahaman agama yang masih rendah.




PEMBAHASAN


Baru-baru ini pelajar kembali bergejolak dan turun ke jalan, namun kali ini bukan dalam rangka aksi menentang rezim yang koruptif. Mereka turun ke jalan untuk saling baku hantam dengan rekannya sesama pelajar, saling serang dan unjuk kekuatan dalam panggung yang bernama tawuran.

Semakin hancur saja citra para pemuda yang dahulu dianggap sebagai harapan bangsa ini. Stigma negatif semakin tersemat kuat akibat banyaknya aksi anarkisme yang terjadi di kalangan pelajar akhir-akhir ini. Para provokator yang hanya segelintir orang telah sukses mengubah citra para intelektual muda ini menjadi penjagal beralmamater sekolah/kampus.

Jakarta, kota yang terakhir jadi sorotan karena tingkat aksi tawurannya yang tinggi. Kota yang baru saja mendapatkan pemimpin baru di akhir September lalu ini dihebohkan dengan berita tawuran yang terjadi beruntun di beberapa sekolah. Tak tanggung-tanggung tawuran yang terjadi antar sekolah ini memakan tumbal. Alawy siswa kelas X SMA negeri 6, dan Dedy Yanuar siswa SMA Yayasan Karya, harus meregang nyawa dalam drama pengecut yang digelar di dua tempat yang berbeda.

Yang satu di daerah Bulungan, satu lagi di Manggarai Jakarta Selatan. Kasus ini bukan hanya terjadi di Jakarta, namun karena Jakarta adalah ibukota negara maka kasus yang terjadi ini menjadi sorotan nasional.  Para pengamat mulai menyoroti dengan serius, apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Realisasi dari model pendidikan di Indonesia mulai banyak dipertanyakan. ‘Pendidikan Karakter' yang dulu digadang-gadang bakal membentuk manusia beradab perlu dievaluasi keefektifannya. Status RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) atau bahkan sudah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) juga perlu ditinjau ulang. Faktanya banyak sekolah yang sudah bertaraf internasional, tapi siswanya masih menyelesaikan masalah sepele dengan kekerasan.


Tentunya bukan ini yang diharapkan dari ide standarisasi tersebut kan ? Suatu hal yang lumrah ketika ada masalah akan dicari ‘kambing hitamnya.' Kemendiknas yang akhirnya jadi sasaran. Wakil pemerintah yang bertugas mengurusi sektor pendidikan ini jadi bulan-bulanan di media dan berbagai forum lainnya karena dianggap gagal mengurusi pendidikan di Indonesia.  Wacana yang unik pun bermunculan dari para pengamat, mulai dari ganti pejabat di kementeriannya, rombak kurikulumnya, buat aturan atau undang-undang yang ketat, sampai tingkatkan alokasikan anggaran untuk cegah tawuran. Wacana yang menurut saya reaktif dan ‘kreatif'.

Memang yang paling mudah ialah menyalahkan sistem, Pertanyaannya, apakah jika semua itu terealisasi tawuran dapat hilang dari muka bumi Indonesia?  Dalam memahami tawuran, maka kita harus kembali ke akar permasalahannya. Secara definisi tawuran adalah keributan, kericuhan, dan perkelahian yang dilakukan secara beramai-ramai, biasanya dilakukan oleh dua kelompok besar yang bertikai. Tawuran yang dialami pelajar disebabkan oleh masih tingginya egoisme mereka dan sedikitnya wawasan dalam menyikapi masalah.

Jika kita pernah mengusut, banyak dari tawuran bermula karena ketersinggungan saat bertatapan dengan pelajar lain di jalan, karena rebutan pacar, ataupun  karena ada pelajar yang dipalak oleh pelajar dari sekolah lain. Semua hal ini dilandasi oleh ego dan  premanisme yang terbungkus kesetiakawanan. 

Penyelesaian masalah yang dilandasi ego ini yang harus diluruskan. Bukan semata mengutak-utik peraturan dan kurikulum sekolah, pendampingan dan kontrol terhadap perkembangan kedewasaan siswa di sekolah juga harus dilakukan. Kedewasaan dapat dibentuk dengan cara menanamkan nilai-nilai agama dan keadaban dalam setiap jenjang kelasnya. Hal ini tentunya bukan sekedar teori di kelas yang hanya dua jam, namun juga harus diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari lewat praktek nyata.
 

Memberikan perhatian lebih terhadap pendampingan dalam proses belajar dan perkembangan siswa akan lebih baik daripada harus menaikkan anggaran untuk mengubah kurikulum atau memperketat aturan yang membuat siswa merasa tertekan.

Akhirnya kembali pada hakikat pendidikan yang dicanangkan oelh Ki Hajar Dewantara : "Cipta, Rasa, dan Karsa." Mengembalikan pendidikan atas dasar agama, akhlak, dan budi pekerti menjadi sebuah solusi yang patut dicoba, bukan sekedar teori namun sebuah realisasi. Sesuatu yang mungkin sering terlupakan oleh petinggi bangsa ini.

PENYEBAB TERJADINYA TAWURAN ANTAR PELAJAR

Tawuran antar pelajar selalu menjadi agenda perbincangan setiap tahunnya, masalah ini bukan perkara baru, dan jangan dianggap perkara yang remeh. Padahal kalau kita kaji masalah tawuran antar pelajar akan membawa dampak panjang, bukan hanya bagi pelajar yang terlibat, namun juga untuk keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai akhirnya melibatkan pihak kepolisian. 

Hal ini tampak beralasan karena senjata yang biasa dibawa oleh pelajar-pelajar yang dipakai pada saat tawuran bukan senjata biasa. Bukan lagi mengandalkan keterampilan tangan, tinju satu lawan satu. Sekarang, tawuran sudah menggunakan alat bantu, seperti benda yang ada di sekeliling (batu dan kayu) mereka juga memakai senjata tajam layaknya film action di layar lebar dengan senjata yang bisa merenggut nyawa seseorang. Contohnya, samurai, besi bergerigi yang sengaja dipasang di sabuk, pisau, besi.

Penyimpangan seperti tawuran antar pelajar, menjadi kerusuhan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang tidak bisa disebut sebagai kenakalan remaja, namun sudah menjadi tindakan kriminal. Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana bisa seorang pelajar tega melakukan tindakan yang ekstrem sampai menyebabkan hilangnya nyawa pelajar lain hanya karena masalah-masalah kecil?  Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak nakal, kelompok kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah. Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa contoh di antaranya, yaitu:

Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di tanggapi dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-pelajar dua sekolah saling bermusuhan.

Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan tawuran antar pelajar, kita bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai penyebab tawuran antar pelajar dari tiga poin diatas.

Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang Berlebihan, rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan rasa solidartas adalah hal yang lumrah atau biasa kita temukan dalam kehidupan, misalkan dalam persahabatan rasa setiakawan akan menjadi alasan mengapa persahabatan bisa menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika ditempatkan dalam porsi yang pas dan seimbang.

Namun, rasa setia kawan yang berlebihan akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya adalah mengakibatkan tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar pelajar yang dipicu karena ketersingguhan seorang siswa yang tersenggol oleh pelajar sekolah lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks lainnya. Misalkan, permasalahan pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain sebagainya.

Pemahaman arti sebuah persahabatan memang perlu dipahami oleh masing-masing individu pelajar itu sendiri. Tawuran antar pelajar yang diakibatkan karena rasa setiakawan harus segera dihentikan, karena hal ini akan memicu kawan-kawan yang lain untuk mendapatkan hak atau perlakuan yang sama pada waktu mengalami masalah.

Ini dapat menjadikan pelajar malas dalam menyelesaikan masalah dirinya sendiri, tanpa mau menyelesaikannya sendiri dan cenderung tidak berani bertanggung jawab. Menjadi ketergantungan dan akan menimbulkan dampak yang negatif bagi perkawanan itu sendiri. Tawuran antar pelajar akibat sejarah permusuhan dengan sekolah lainKadang permasalahan tawuran antar pelajar dipicu pula dengan adanya sejarah permusuhan yang sudah ada dari generasi sebelumnya dengan sekolah lain, beredarnya cerita-cerita yang menyesatkan, bahkan memunculkan mitos berlebihan membuat generasi berikutnya, terpicu melakukan hal yang sama. 

Contohnya, sebut saja sekolah A dengan sekolah B adalah musuh abadi, dimana masing-masing sekolah akan melakukan hal yang antipati terhadap sekolah lain. Biasanya, akan ada pelajar yang menjadi perbincangan, semacam tokoh bagi sekolahnya, karena kehebatannya pada waktu berkelahi.

Dalam permasalahan tawuran antar pelajar yang dipicu karena permasalahan ini, perlu adanya pendekatan khusus, yang memasukkan program kerja sama dengan sekolah tersebut. Peranan sekolah dan guru memegang peranan penting. Ironisnya, sebuah pertandingan persahabatan. Misalnya, olahraga. Kadang memicu sebuah permusuhan dan perkelahian. Hal ini akhirnya menuntut kecerdasan dan ketelitian pihak penyelenggara dalam mengemas sebuah acara.

Tawuran Antar Pelajar Akibat Jiwa Premanisme, premanisme bukan istilah yang asing lagi. Premanisme yang berasal dari kata “preman” adalah sebutan orang yang cenderung memakai kekerasan fisik dalam menyelesaikan permasalahannya. Kemenangan di ukur karena kekuatan fisiknya bukan intelektualitas. Premanisme bertolak belakang dengan jiwa seorang pelajar, yang dituntut kecerdasan berpikir, kecerdasan mengelola emosi, dll. 

Jiwa premanisme dalam jiwa pelajar dapat dihilangkan karena dia tidak semerta merta muncul begitu saja, ia disebabkan oleh sesuatu hal. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui faktor penyebab sikap premanisme dalam diri pelajar. Faktor di luar diri pelajar adalah faktor yang kental dapat mempengaruhi ke dalam. Beberapa contohnya adalah: Tayangan-tayangan di televisi, baik film ataupun liputan berita yang menceritakan atau sengaja mengekspose tema-tema kekerasan dapat mempengaruhi psikis remaja. Kekerasan yang terjadi di rumah. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya individu pelajar saja yang menjadi korban kekerasan namun kekerasan yang terjadi pada satu anggota keluarganya, dapat mempengaruhi psikis individu. Hal ini yang akan menyebabkan trauma atau kekerasan beruntun yang diakibatkan karena menganggap kekerasan adalah hal yang wajar.

Acara awal tahun, orientasi sekolah adalah acara di mana pelajar baru diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Kegiatan yang pada dasarnya adalah untuk memahami dan mengenali sekolah, kegiatan serta untuk lebih kenal kawan-kawannya malah cenderung disalah gunakan oleh senior untuk ajang balas dendam dari apa yang pernah ia terima pada waktu yang sama menjadi junior, pola-pola yang dipakai cenderung dengan pola militer. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan dalam dunia pendidikan. Pola yang menjadi semacam suntikan yang terus diturunkan oleh setiap generasi. Agar terhindar dari pola yang berlebihan, diperlukan adanya pengawasan dari pihak sekolah dan turunnya langsung pengajar dalam kegiatan ini. Kedisiplinan berbeda dengan kekerasan, hal ini seharusnya menjadi tantangan setiap panitia kegiatan dalam mengemas ide, gagasan acara pada waktu perkenalan sekolah, menjadi sesuatu yang inofatif, kreatif sehingga diharapkan lambat laun sikap premanisme akibat perpeloncoan akan menjadi cara kuno dan tidak menarik lagi.

Dari ketiga faktor penyebab tersebut, kita bisa mendapatkan bayangan atau solusi yang terbaik seperti apa dan bagaimana melakukan proses penyelesaiannya. Walaupun permasalahan tawuran antar pelajar memang bukan hal sepele yang bisa langsung diselesaikan, namun diperlukan adanya proses berkelanjutan, kesadaran dan kerja sama dengan semua pihak, bukan hanya sekolah, orangtua, masyarakat dan penegak hukum, tapi juga kesadaran pemahaman pelajar sebagai seorang individu, sebagai generasi muda yang penuh dengan tanggung jawab.

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas, yaitu: “Pemahaman” bagaimana seorang pelajar disaat sedang mengalami pencarian identitas, cenderung sangat mudah labil. Dan kelabilan inilah yang ahirnya tawuran antar pelajar terjadi.Ada beberapa cara yang efektif untuk mencegah sebelum tawuran antar pelajar terjadi, misalkan dengan:
Membuat dan memfasilitasi ruang-ruang kegiatan yang positif.

Memberikan kebebasan berpendapat dan berekspresi dan tetap adanya kontrol dari pihak-pihak yang berkaitan khususnya orang-orang terdekat, mencoba lebih terbuka dan mengenali serta memberikan solusi yang positif ketika remaja sedang mengalami emosi.
Sikap optimis dan kepercayaan terhadap pelajar perlu ditumbuhkan kembali, sehingga suatu saat kita tidak akan mendengar lagi berita atau kabar mengenai kejadian tawuran antar pelajar di negeri kita ini, yang ada kita bangsa Indonesia dipenuhi kabar berita tentang pelajar-pelajar yang produktif, kritis, mampu menjadi juara dalam berbagai bidang, baik berupa kompetisi pengetahuan dan ilmu pengetahuan. 

Sudah saatnya generasi muda membuktikan potensi dalam dirinya, dan sudah menjadi tugas kewajiban orang tua, sekolah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya bentuk-bentuk penyelewengan pelajar, terutama permasalahan yang membuat was-was menjadi sebuah tindakan kriminal.

Upaya untuk mencegah tawuran di kalangan pelajar.

Tentunya kita ikut prihatin akan kejadian di daerah lain (Jakarta) yang sampai memakan korban jiwa. Meski di Surabaya sudah lama kita tidak mendengar adanya tawuran, kami tidak ingin lengah. Seluruh pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan ketua kelas baik dari sekolah negeri maupun swasta akan dikumpulkan untuk diberikan pengertian.

Selain itu, juga beberapa sekolah yang berdekatan lokasinya, dan sekiranya mempunyai potensi bakal memicu terjadinya tawuran, akan kita pertemukan bersama untuk mencegah kejadian ini. Mereka akan diingatkan tujuan awal ke sekolah untuk belajar mencapai cita-cita dan keberhasilan mereka sendiri di masa depan, bukan untuk yang lain. Jadi mereka harus fokus di situ arena kalau mereka lengah dan melakukan aktivitas yang nonproduktif nanti rugi sendiri.

Bahkan, kami akan mengumpulkan semua ketua kelas untuk dibentuk semacam jaringan karena mereka adalah orang yang berinteraksi setiap hari dengan teman-temannya sehingga tentu akan tahu lebih dini bila muncul sebuah potensi awal terjadinya gesekan. Para ketua kelas ini akan diberikan semacam pelatihan untuk mencegah tawuran, termasuk melibatkan ahli psikolog.

Bagaimana dengan pihak sekolah? Tentu sekolah dalam mengantisipasi ini harus memberikan perhatian lebih sebagai komitmen mereka dalam memberikan pendidikan. Guru dan kepala sekolah harus care pada permasalahan ini karena umumnya tawuran terjadi di lingkungan sekitar sekolah.

Bagaimana dengan tindakan perploncoan pada masa orientasi siswa? Semua sudah sepakat itu (perploncoan siswa baru) tidak diperbolehkan karena dalam memori si anak akan terbawa terus. Sekali kita ajarkan kekerasan pada anak, dendam atau sakit itu akan dia simpan dan suatu saaat akan keluar. Artinya suatu saat dia akan melakukan hal yang sama, entah kapan. Maka pada kesempatan kita mengumpulkan para pengurus OSIS nanti akan kita tegaskan forum masa orioentasi siswa atau latihan kepemimpinan bukan tempat untuk menunjukkan kakak kelas lebih berkuasa dari adik kelas atau ajang balas dendam, tetapi forum untuk saling mengenal dan berinteraksi.

Pemimpin bukan seperti itu. Pemimpin mengajarkan tanggung jawab, bukan melakukan kekerasan. Yang mengalami atau masih melakukan perploncoan nanti akan kami datangi ke sekolahnya untuk diklarifikasi. Selama terjadi di lingkungan dan jam sekolah tentu mereka harus memiliki tanggung jawab, tentu akan ada sanksi tersendiri.

Peran Orang Tua Untuk Mencegah Terjadinya Tawuran

Pendidikan dalam keluarga sangat penting sebagai landasan dasar yang membentuk karakter anak sejak awal. Peran orang tua tidak hanya sebatas menanamkan norma-norma kehidupan sejak dini. Mereka harus terus berperan aktif, terutama pada saat anak-anak menginjak usia remaja, di mana anak-anak ini mulai mencari jati diri.

Bagaimana orang tua dapat berperan aktif? Orang tua mesti senantiasa menjaga komunikasi, keharmonisan keluarga serta membentengi mereka dengan pendidikan agama yang benar. Melalui tiga cara ini, orang tua dapat memberikan contoh teladan yang baik bagi anaknya. Dengan adanya teladan yang baik di rumah, mereka akan lebih tidak mudah terpengaruh untuk terlibat dengan aktivitas yang bersifat anarkis.

Menjalin komunikasi yang baik. Kenyataan di masa sekarang bahwa orang tua terlalu sibuk bekerja hingga anak-anak ini kehilangan figur orang tua mereka. Sesibuk apapun, orang tua mesti berusaha meluangkan waktu bersosialisasi dengan anak remaja mereka. Luangkan waktu di akhir pekan untuk berkumpul dan mendengar keluh kesah mereka. Posisikan diri anda sebagai teman bagi anak anda dalam memberikan feedback. Dia akan merasa lega bisa mengeluarkan uneg-unegnya secara positif tanpa harus menyimpang ke perilaku destruktif.
Menjaga keharmonisan keluarga. Emosi anak-anak usia remaja sangatlah labil. Untuk itu, anda harus pandai-pandai menjaga emosi anak. Usahakan untuk tidak mendikte atau mengekang anak selama yang dilakukannya masih positif. Usahakan juga untuk tidak melakukan tindak kekerasan di dalam rumah dan tidak melakukan pertengkaran fisik di hadapan sang anak. Mereka akan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Jika orang tua sendiri tidak bisa menghargai anggota keluarga sendiri, bagaimana anak-anak bisa belajar menghargai orang lain?

Memberi pendekatan agama yang benar


Peran Guru Untuk Mencegah Terjadinya Tawuran.

Harus kita evaluasi juga bahwa penanaman nilai-nilai dan ilmu pengetahuan bukan kegiatan yang mesti dipaksakan atau dijejalkan. Semestinya bagaimana penanaman nilai-nilai dan norma-norma itu dalam konteks pembelajaran tumbuh berdasarkan kesadaran yang timbul dari pelajar sendiri.

Di sinilah peran guru sebagai pembimbing benar-benar dipertaruhkan. Guru sebagai pembuka jalan menuju cahaya hari depan, bukan tukang paksa. Guru harus membukakan jalan pencerahan kepada mereka. Sudah saatnya guru menunaikan tugasnya. Kewajiban guru tidak gugur setelah mengajar. Guru harus menjadi contoh yang baik, dari segi akhlak ataupun norma-norma kemasyarakatan.

Guru dalam konteks pembelajaran wajib berinteraksi secara batiniah dengan siswanya. Guru dituntut tahu permasalahan psikologis dan problem setiap siswanya, sehingga, sehingga ketika ada siswa yang malas-malasan belajar di kelas pada saat guru menyampaikan materi, guru harus responsive mencari tahu akar permasalahannya. Apakah ia punya problem dalam keluarganya? Halitu bukan semata tugas guru BK, tetapi tugas semua guru.


Apa yang diungkapkan Bung Karno, pemimpin besar revolusi dalam buku Di Bawah Bendara Revolusi ada baiknya dapat kita renungkan bersama. Bung Karno berkata, “Tiap-tiap perguruan, di negeri mana saja dan pada bangsa mana saja, mempunyai guru yang baik dan mempunyai guru yang kurang baik.














 Sumber:






  
KESIMPULAN

Pada hakikatnya tugas seorang pelajar adalah menuntut ilmu demi mencapai masa depan yang indah, tawuran merupakan salah satu sifat tercela yang seharusnya tidak dicontoh oleh para pelajar, para penerus bangsa dan generasi muda. Tidak ada manfaat positif yang bisa diambil dengan mengikuti tawuran, sebaliknya kita akan mendapatkan masalah. Para pelajar yang merupakan penerus bangsa harusnya mempunyai pola pikir yang dewasa untuk menghindari tawuran, harusnya yang dilakukan para pelajar adalah mengharumkan nama sekolah dan bangsa dengan membuat prestasi-prestasi yang membanggakan.

Peran keluarga terutama orang tua adalah sangat penting untuk menciptakan karakter yang positif kepada anaknya agar terhindar dari hal-hal negatif seperti tawuran, menjalin komunikasi yang baik, menjaga keharmonisan keluarga serta menanamkan agama sejak dini merupakan beberapa faktor untuk mencegah anak mengikuti tawuran. Selain orang tua peran guru juga sangat berpengaruh dalam hal ini, guru harus membukakan jalan pencerahan kepada mereka. Sudah saatnya guru menunaikan tugasnya. Kewajiban guru tidak gugur setelah mengajar. Guru harus menjadi contoh yang baik, dari segi akhlak ataupun norma-norma kemasyarakatan.

Sudah saatnya generasi muda membuktikan potensi dalam dirinya, dan sudah menjadi tugas kewajiban orang tua, sekolah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya bentuk-bentuk penyelewengan pelajar, terutama permasalahan yang membuat was-was menjadi sebuah tindakan kriminal.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar